Ia menyoroti fenomena AI Hype yang kini melanda dunia jurnalistik.
“Sebelum bicara tools, kita harus memahami dulu human-centred mindset-nya. Apa dampak sosialnya, apa risiko etiknya, dan bagaimana kita tetap kritis terhadap itu,” paparnya.
Menurut Olivia, banyak jurnalis di Indonesia belum menyentuh aspek etis penggunaan AI.
“Alih-alih memahami dampaknya terlebih dahulu, banyak yang langsung mempelajari cara pakainya. Ini pekerjaan rumah besar bagi dunia jurnalistik kita,” ujarnya menambahkan.
AI Mengubah Pola Konsumsi Informasi Publik
Wakil Pemimpin Redaksi tirto.id, Agung DH, memaparkan bahwa AI telah mengubah cara masyarakat mencari informasi.
“Dulu orang mencari berita lewat situs, sekarang mereka langsung bertanya ke mesin pintar dan dapat jawaban instan,” jelasnya.

Meski demikian, Agung melihat perubahan ini sebagai peluang.
“AI bukan ancaman, tapi kesempatan. Justru di sinilah peran jurnalis dibutuhkan untuk memastikan kebenaran informasi dan menjaga kepercayaan publik,” ujarnya menegaskan.
Aturan Baru Dewan Pers tentang Penggunaan AI
Acara ini juga menyoroti hadirnya Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.
Regulasi tersebut bertujuan menjaga martabat pers agar tetap etis, profesional, dan berorientasi pada kepentingan publik.
“Tujuan utama aturan ini adalah memastikan AI tidak menggantikan nilai kemanusiaan dalam jurnalisme, melainkan memperkuat kualitas dan integritas karya pers,” kata salah satu panitia dalam sesi penutup workshop.
Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan workshop teknis oleh Rina Nurjannah, Redaktur Utama, dan Nanda Saputri, SEO Manager tirto.id, yang membahas penerapan praktis AI di ruang redaksi.
Jurnalisme Tetap Tentang Manusia
Kegiatan ditutup dengan pesan reflektif dari moderator.
“AI bisa menulis cepat, tapi ia tidak bisa punya nurani,” ujarnya. “Tugas jurnalis tetap sama: mencari kebenaran dan menuliskannya dengan hati.”
Dengan semangat adaptif dan etis, Dewan Pers berharap jurnalisme Indonesia tetap menjadi pilar demokrasi yang kokoh di tengah disrupsi teknologi.
Penulis : Tuti
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















