Sementara itu, peserta tampak antusias mencoba menulis aksara Jawa dan memukul gamelan secara bergantian.
Dengan demikian, Malioboro tak lagi sekadar latar swafoto, melainkan ruang praktik kebudayaan.
Selain melibatkan komunitas lokal, program ini juga menggandeng mahasiswa asing yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Menurut Yetti, kolaborasi lintas bangsa ini membuka ruang dialog yang setara.
“Kami ingin budaya Yogyakarta berdialog dengan dunia. Ketika mahasiswa internasional ikut belajar dan berinteraksi, maka nilai-nilai lokal ikut tersebar secara global,” tegasnya.
Bahkan, ia menyebut keterlibatan mereka sebagai langkah konkret diplomasi budaya dari ruang publik.
Malioboro Pusat Budaya di Sumbu Filosofi
Lebih jauh, Yetti menekankan Setu Sinau menjadi bagian dari upaya menguatkan kembali Malioboro sebagai koridor budaya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta.
“Ia harus menjadi ruang edukasi dan interaksi budaya yang inklusif,” katanya.
Karena itu, Pemkot berencana menghadirkan Setu Sinau secara rutin setiap Sabtu pagi.
Penulis : Wawan
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















