Pemerintah Kota Bandar Lampung yang seharusnya mampu membangun fasilitas serupa,
hingga kini belum juga merealisasikan perpustakaan modern meskipun dalam setiap kampanye politik selalu mengusung visi peningkatan kualitas pendidikan.
Sayangnya, visi tersebut belum menunjukkan bukti nyata dalam bentuk fasilitas literasi yang memadai.
Padahal, sebagai ibukota provinsi yang memiliki banyak lembaga pendidikan, keberadaan perpustakaan yang representatif sangat penting untuk mendukung pendidikan.
Perpustakaan masa kini bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang interaktif yang kaya akan fasilitas untuk mengembangkan potensi dan minat baca masyarakat.
Inilah pentingnya pemerintah memiliki kesadaran dan kecintaan terhadap dunia literasi, seperti yang telah dicontohkan oleh sosok Willy Aditya.
Sebenarnya, Pemprov Lampung pernah menganggarkan dana sebesar 100 miliar rupiah pada tahun 2018 untuk membangun perpustakaan modern yang dilengkapi berbagai fasilitas canggih.
Namun proyek tersebut sempat terhenti akibat pandemi, dan baru dilanjutkan kembali pada tahun 2022.
Meski gedungnya telah diresmikan, fungsi utamanya sebagai pusat literasi masih belum maksimal.
Di tengah keterbatasan anggaran, mungkin sudah saatnya pemerintah mencontoh langkah inovatif seperti yang dilakukan di Kaliurang menyulap ruang terbatas menjadi ruang literasi yang inklusif, tanpa menunggu megahnya gedung berdiri sempurna.
(*) Penulis adalah Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) Provinsi Lampung
Penulis : Kurniawan
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















