“Ini bukan hanya pameran, tetapi perjalanan proses kreatif,” tulis rilis tersebut.
Konsep pameran juga dinilai unik karena menantang pola tata pamer konvensional.

Pengunjung diajak mengikuti garis hitam berliku di lantai dan dinding yang melambangkan alur pikiran manusia.
“Garis ini menggambarkan perjalanan ide, kadang mudah, kadang sulit dilalui,” jelas penyelenggara.
Karya Igo menampilkan figur tentara, karakter lucu hingga menyeramkan, hewan bermetamorfosis, tumbuhan, hingga potongan anatomi tubuh yang dipadukan warna pop ceria.
Direktur IFI Yogyakarta, Margaux Nemmouchi menegaskan pameran ini menjadi bentuk dukungan bagi seniman muda.
“Kami sangat senang menjadikan ROAD TO IGO sebagai pameran perdana kami tahun ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kami ingin membuka peluang kolaborasi kreatif di bidang batik, animasi, hingga gim video.”
Menurutnya, pameran ini juga menjadi simbol kolaborasi kuat antara IFI, SAFARI Studio, mitra pendukung, serta keluarga seniman.
Penulis : Andriyani
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















