“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk Koramil 01/Wonosobo, panitia, dan seluruh warga yang telah menyukseskan acara ini,” ujarnya.
Menurut Ridho, nyadran memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar tradisi budaya.

“Nyadran memperkuat persaudaraan sesama warga Kalianget dan sekitarnya,” katanya.
Lebih jauh, Ridho menekankan dimensi spiritual dalam tradisi tersebut.
“Nyadran adalah bentuk birrul walidain, bakti kepada orang tua dan para pendahulu yang telah mengajarkan nilai-nilai Islam kepada kita,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa tradisi itu sekaligus refleksi kehidupan.
“Melalui nyadran, kita diingatkan bahwa suatu saat semua akan kembali kepada Sang Khaliq. Karena itu, kita harus menyiapkan bekal terbaik untuk menghadap-Nya,” kata Ridho.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah, menegaskan bahwa nyadran bukan hanya warisan budaya, melainkan energi sosial yang terus menyatukan warga.
Penulis : Wawan
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















