Sebaliknya, PKI memperlihatkan Pencak Silat Tunggal Hati yang diiringi dentuman gamelan, menghadirkan suasana mistis yang membangkitkan ketegangan di tengah keramaian pasar.
Seni bela diri ini menjadi simbol kekuatan dan pengaruh di tingkat akar rumput.
Persaingan ini bukan sekadar adu massa atau pawai meriah, melainkan sebuah drama sosial tentang bagaimana ideologi dan budaya membentuk dinamika kehidupan masyarakat Kotagede.
Keduanya berusaha memenangkan hati rakyat dengan pendekatan yang berbeda — satu dengan ketertiban dan religiusitas, satu lagi dengan semangat revolusi dan keberanian menantang norma.
Kotagede menjadi saksi bisu atas ketegangan yang membelah masyarakat, namun sekaligus memperkaya identitas budayanya.
Hingga kini, jejak rivalitas itu masih terasa di sudut-sudut Kotagede. Dalam keheningan malam atau riuhnya pasar, bisikan sejarah itu tetap terdengar, mengingatkan kita pada ketegangan masa lalu yang membentuk identitas masa kini.
Di mana kita berdiri hari ini? Apakah kita siap untuk menelusuri jejak-jejak itu dan memahami makna di balik Kotagede, sebuah kawasan yang sarat sejarah di Yogyakarta, pernah menjadi panggung persaingan dua kekuatan besar yang memperebutkan yang pernah membakar semangat rakyat Kotagede?
Penulis : Kurniawan
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















