Selain itu, Azhar menekankan bahwa teknologi AI dalam aplikasinya bukan sekadar kecanggihan digital.
Sebaliknya, ia merancang AI secara empatik dan non-judgmental agar siswa merasa nyaman untuk terbuka.
“Melalui percakapan yang kontekstual dan personal, aplikasi ini membantu siswa mengaitkan kondisi emosional dengan pesan Qurani dan prinsip psikologi positif,” jelasnya.
Bahkan, ia memastikan aplikasi tersebut tidak menggantikan peran guru.
“Guru tetap menjadi pendamping utama. Teknologi hanya memperluas ruang interaksi reflektif di luar kelas,” tegas Azhar.
Dengan capaian ini, Azhar mempertegas bahwa transformasi pendidikan berbasis nilai dan teknologi dapat berjalan beriringan.
Ia pun mempersembahkan kemenangan tersebut untuk Sleman.

“Inovasi ini kami persembahkan untuk Kabupaten Sleman.
Ia berharap berbagai sekolah segera mereplikasi Qalbu Talk secara luas untuk memperkuat karakter sekaligus meningkatkan ketahanan mental siswa.
“Tujuan utama kami bukan hanya prestasi lomba, tetapi membentuk generasi yang tangguh, beriman, dan berdaya juang tinggi,” tandasnya.
Penulis : Andriyani
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















