“Geblek Renteng bukan sekadar motif, melainkan simbol gotong royong yang lahir dari kajian panjang,” ujar Wakil rakyat yang akrab disapa Tiwuk itu.
“Silakan mengganti simbol, tapi jangan berharap bisa menghapus ideologi gotong royong di hati masyarakat,” katanya.
Tak hanya dari oposisi, kritik bahkan datang dari partai pengusung.
Ketua DPD Golkar Kulon Progo 2020–2025, Suharto, menilai kebijakan seragam biru muda berpotensi menimbulkan kesan politisasi birokrasi.
“Seharusnya lebih bijak, karena warna biru di mata publik identik dengan PAN,” ujarnya.
Senada, anggota DPRD Kulon Progo Maryono mengingatkan bahwa bupati adalah pemimpin seluruh rakyat.
“Pak Agung itu Bapaknya Kulon Progo, bukan Bapaknya PAN,” katanya.
Kritik-kritik ini menjadi alarm bahwa kebijakan simbolik tanpa sensitivitas politik dan sosial justru dapat menggerus kepercayaan publik.
Penulis : Wawan
Editor : Peristiwaterkini
Halaman : 1 2

















